Indah Pada Waktunya

Cewek 16 tahun, nggak begitu cantik dan terkenal. Pipiku tak semulus 3 tahun yang lalu. Apa karena keharmonisan kelurgaku sudah hilang? Kemulusan di pipi juga harus ikut hilang? Ah tidak. Mungkin karena tak lagi terpoles macam pelembab, bedak, pembersih dan lain sebagainya, disebabkan karena ak tak kan sempat lagi memikirkan hal begituan. Inilah yang kusayangkan, walaupun nggak punya body perfect, setidaknya aku masih punya keharmonisan. Tapi mengapa itu semua juga hilang?

Dear diary,
20 Januari 2011.
Sudah kesekian kalinya aku mendapat nilai 100 di hampir semua mata pelajaran. Tuhan, terimakasih atas nilai fisika tadi. Tapi kenapa Tuhan? Kesekian kalinya pula kedua orang tuaku tak menghiraukan bagaimana nilaku di sekolah. Seperti hari – hari sebelumya, selalu saat makan malam juga..Tuhan. Harapanku mereka akan bangga padaku. Tapi mana? Tak pernah lupa aku menaruh secarik kertas ulanganku di dekat piring mereka. Mana reaksinya coba? Nihil. Bahkan parahnya, setelah mereka makan, kertasnya malah diterpa angin yang tak tahu kemana perginya. Bundaku , ya masih seperti itu. Nggak mau ngalah. Begitu pula ayahku, egois. Kalau kedaan begini terus, gimana nasibku coba? Masak gara – gara masalah sepele bakal jadi kayak gini? Memang Engkau Maha Adil Ya Tuhan. Kalau aku gak kuat, pasti aku akan melampiaskannya ke hal – hal yang negative. Untungnya aku bisa mengeremnya sendiri.

Kututup diaryku. Kuhela nafas panjang – panjang. Sejenak aku berfikir, kapan orang tuaku bersatu dan aku dianggap lagi? Semua cara sudah kulakukan agar mereka bersatu. Tapi kosong, tak ada respon. Tapi, aku selalu memegang prinsip, segala sesuatu di dunia ini pasti akan indah pada waktunya. Aku harus percaya itu. Teringat sewaktu aku berumur 13 tahun, keluargaku begitu harmonis. Segera mungkin aku mencari tumpukan diary di meja belajarku. Hingga kutemukan diary pada tahun 2008. Aku membolak balik lembaran diary itu menuju tanggal dimana terakhir kali aku merasakan keharmonisan dulu. Ya, tepatnya tanggal 22 Januari 2008. Setelah kutemukan lembaran tersebut, di situ tertulis pada saat makan malam pula, aku bercanda dan tertawa bersama bundaku. Hari itu adalah hari ulang tahunku. Hari itu pula aku merasakan ulang tahun indah yang terakhir kalinya. Aku ingat, sangat – sangat ingat. Bundaku menasehatiku, aku ingat betul bagaimana kata – katanya. “Apa yang terjadi adalah apa yang kamu percaya”. Aku selalu mengecamkannya.

Kubuka lagi lembaran selanjutnya. Esoknya, tanggal 23 Januari, dijelaskan di situ bahwa hari itu orang tuaku berseteru habis – habisan. Masalahnya adalah kesalahpahaman. Bundaku mengira ayahku membelai perempuan lain. Kenyataanya, ayahku hanya mencari pekerjaan tambahan. Tapi bundaku mengira seperti itu. Tidak ada yang mau mengalah. Pikiranku melayang, hingga aku terlelap tidur.

Pagi – pagi sekali aku bangun. Sesegera mungkin kutata tempat tidur. Rencanaku pagi ini adalah berangkat sekolah pagi – pagi. Harapanku supaya tidak bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku ingin mencoba cara kali ini. Kalau aku pagi sudah menghilang, apakah mereka akan mencariku atau tidak.

Kutunggu sampai jam pulang sekolah, tetap saja aku tidak dicari. Tega sekali orang tuaku. Menelpon juga tidak. Seperti biasanya, aku pulang dengan membawa selembar kertas bertuliskan angka 100. Aku harap dengan nilai kali ini dapat memicu keharmonisan kelurgaku lagi. Aku harus percaya itu.
Kuselipkan kertas tersebut di antara lembaran – lembaran diaryku. Kali ini ak tidak melakukan tindakan pada saat makan malam. Aku percaya semuanya indah pada waktunya. Jadi, aku harus cukup bersabar.

Hingga malam tiba, saatnya menulis segala unek – unekku pada buku kesayananku ini.

Dear diary,
21 Januari 2011
Tuhan, kali ini aku nggak mau menaruhnya di dekat piring makan orangtuaku. Biarlah mereka sendiri yang menyadarinya. Aku akan bersabar Tuhan. Aku yakin bisa. Tapi, tetap hari ini nggak ada yang special. Selalu hariku begini. Monoton. Aku harap, esok hari, tanggal 22 Januari 2011, hari ulang tahunku,keharmonisan itu kembali lagi seperti 3 tahun yang lalu. Aku ingin, saat bangun tidur esok, aku diberi kecupan oleh ayah dan bundaku. Aku tidak minta apa – apa Ya Tuhan. Hanya itu saja. Aku percaya Kau Maha Adil.

Di baris terakhir halaman itu, kutuliskan “Bunda, Ayah, sadar dong. Putri kalian di sini butuh kasih sayang. Jangan saling egois.” Tanpa sadar air mataku menetes di atas coretan pena tersebut. Kuusap air mataku. Lalu, diary itu kututup. Aku bergegas naik ke tempat tidur. Kudekap buku yang berisi curhatanku ini erat – erat. Hingga terlalap tidur.

Tiba – tiba, aku bangun karena diberi kecupan oleh bundaku. Kulihat dari kejauhan ayahku membawa kue tart kecil berlilinkan angka 16. Mereka bernyanyi Happy Birthday. Betapa bahagianya aku mendengar nyanyian itu. Aku bergegas bangun dan menghampiri ayahku yang baru berjalan setengah tangga.
“ahh, sialan!” aku terpeleset di tangga. Tapi setelah itu, pandanganku kabur, dan kosong. Tapi perasaanku seperti ada seseorang yang menghampiri dan menyentuh tanganku. Lama kelamaan, aku tak merasakan apa – apa lagi.
Setelah lama aku tak merasakan apa – apa, kini sangat terasa panas matahari masuk ke celah – celah tirai kamarku. Mataku mengeriyip berusaha terbuka. Astaga, itu cuma mimpi. Harapnku terasa sirna. Kuraba – raba di sekitar bantalku. Aku tidak menemukan keberadaan diaryku. Dimana dia? Aku semakin panik. Kalau sampai diary itu hilang, harapanku benar – benar pupus.
Sesaat, aku terdengar nyanyian lirih.
“Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday Mona!!!” Ya Tuhan, ini kan hari jadiku. Aku sampai tidak ingat. Kudengar suara itu makin pekat di telinga. Kulihat Ayahku membawa tart kecil. Bundaku juga mendekat. Astaga, persis seperti mimpiku semalam.
“Happy Birthday Mona.” Kata Bundaku seraya mengecup keningku. Dia juga menyodorkan sekotak kecil. Lekas kubuka kotak itu. Aku sangat kaget. Kenapa diaryku ada di tangan bundaku?
“Terimakasih Ayah, Bunda. Tapi, kenapa kalian tiba – tiba peduli? Oh iya, kenapa pula diaryku ada di tangan kalian?” kataku teramat bernahagia.
“Mona, karena coretan penamu di buku kecil ini, hati kami terbuka. Bunda sudah membacanya dari awal sampai lembaran terakhir.” Jawab bundaku tersenyum.
“Lalu? Bagaimana bisa mendapatkannya?” tanyaku penasaran.
“Semalam kamu mimpi apa? Kamu berteriak kenceng banget. Membangunkan kami. Bunda naik ke atas. Ternyata kamu hanya terbawa mimpi kan?” jelas bunda.
Aku hanya bisa menyodorkan senyum bahagiaku pada mereka seraya berfikir. Sungguh, keharmonisan ini telah kembali. Memang benar kata – kata bunda. Apa yang terjadi adalah apa yang kita percayai. Selama ini harapanku telah terwujud. Cukup dengan kesabaran dan percaya kalau indah itu pasti terjadi pada saat yang tepat sesuai kehendak-Nya

Karya: Agung Chandra (Facebook)

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: