Ku Sentuh Mereka

Genap tujuh hari sudah aku seperti ini. Pikiranku selalu melayang tak tentu arah akan ke mana. Semenjak kepergian orang tuaku dalam kecelakaan maut tujuh hari lalu, aku makin tak berdaya. Bisa dikatakan seperti depresi tingkat tinggi yang berkepanjangan.
Di luar penuh sesak orang. Posisinya sama, duduk silamelingkar. Suaranya saling bersahutan melantunkan doa untuk kedua orang tuaku. Meskipun demikian, tekatku bulat untuk tidak keluar kamar. Perasaanku selalu merasa bersalah. Hampir semua waktuku aku habiskan di kamar ini, kamar di mana orang tuaku dulu berada. Selalu ku pandangi foto manis mereka.
Sesaat pikiranku melayang menuju tujuh hari yang lalu. Di mana aku memusuhi orang tuaku. Penyebabnya tak lain adalah keinginanku tak dikabulkan oleh mereka. Semua orang di kelasku telah mempunyai motor sendiri.

“Ma, Pa. tidak akan dianggap SMA kalau nggak punya motor sendiri. Pernah muda nggak sih kalian? Mikir dong!” Cetusku tanpa pikir panjang.

“Sayang, bukannya Mama nggak mau beliin kamu motor, tapi kasihan Papamu, Nak. Perusahaannya diancam nyaris bangkrut.” Jawab mamaku dengan lembut. Kulihat papaku tak ada respon sama sekali. Hal itu membuatku semakin kebakaran jenggot, kata orang – orang.

“Ah, enggak asik! Orang tua macam apa kalian?” Kulontarkan kata – kata kasar tersebut seraya membanting pintu kamar.

“Kalau gak ada motor, gak ada sekolah, titik!” Tambahku dengan lantang dan kasar. Aku berpikir apakah aku keterlaluan pada mereka Ya Tuhan. Telinga kananku selalu berbisik seperti itu. Akan tetapi, biar saja, yang keterlaluan itu bukan aku, tapi mereka. Telinga kiriku menghancurkan keluluhan tersebut. Tiba – tiba terdengar suara mobil berlalu. Aku mengintipnya dari jendela kamar. Ternyata itu mobil kedua orang tuak. Dalam hatiku berkata, kemana lagi mereka malam – malam gini. Aku semakin mengantuk hingga akhirnya aku terlelap tidur.

“Brak!” Aku teramat terkejut ketika pintu kamaruku dibuka paksa. Ternyata itu Bi Sumi.

“Kenapa lagi sih Bik? Gak tau apa orang lahi pules tidur? Ha?” Bentakku padanya.

“Gawat Non. Gawat. Tuan dan Nyonya! Gawat!” Panik Bi Sumi.

“Ada apa lagi sih? Salah sendiri nggak mau kasih aku motor.” Jawabku dengan santainya.

“Non, sadar Non. Tuan dan Nyonya kecelakaan besar, gara – gara mau beliin Non motor malam ini.” Katanya. Mendengar kalimat itu diucapkannya, tanpa kusadari ar mataku langsung menetes. Gara – gara salahku dan egoku, mereka semua menderita.
Kemudian aku bergegas meuju Rumah Sakit. Namun, terlanjur tak tertolonh karena keduanya kekurangan darah. Aku menangis, kalau saja aku lebih cept pasti aku bisa mendonorkan darah untuk mereka. Namun semuanya sia – sia. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis di dekat nisan keduanya. Merintih – rintih memohon maaf padanya. Tapi, semuanya telah berlalu. Aku belum sempat menyenangkan hari mereka. Yang kulakukan adalah membuat mereka repot terus Ya Tuhan.
Kedatangan Bi Sumi membuyarkan lamunanku saja. Membuyarkan nostalgiaku bersama orang tuaku yang sebenarnya aku cintai.

“Non, apa gak mau makan?” Tawar Bi Sumi padaku. Dia mendekatiku dan mengelus rambutku yang terurai saat aku terbaring di tempat tidur kedua orang tuaku dulu. Aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Tiba – tiba pandanganku ke Bi Sumi semakin kabur, kabur, dan kosong pada akhirnya. Aku mencoba bangun dari posisiku. Aku ingin memeluk Bi Sumi. Sekrang, hany Bi Sumi yang kupunya. Aku sudah tak punya siapa – siapa lagi. Saat tanganku ingin meraihnya, kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? Kuulangi sekali lagi, nihil. Tetap sama. Aku semakin terkejut. Tiba -tiba aku melihat papa dan mamaku tersenyum. Aku mendekatinya. Mereka memelukku hangat. Anehnya, kenapa aku bisa menyentuh mereka, sedangkan Bi Sumi tidak? Kulihat Bi Sumi menangis memandangi jasadku. Aku baru sadar. Aku dan jasadku telah terpisah. Aku benar – benar bersama orang tuaku. Sekarang aku telah damai bersama meraka, selamanya.

Karya A. C. Novita

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: