Jadilah Dirimu Sendiri

Hak istimewa sepanjang hidup adalah menjadi dirimu sendiri (Joseph Campbell )


S
ebagai remaja , kamu tentu saja pernah terobsesi dengan seseorang yang kamu idolakan, dan kamu pun biasanya ingin menjadi seperti orang itu. Iya nggak, sih? Kayaknya sih iya, karena dulu, waktu saya masih remaja pun saya kadang berpikir seperti itu. Rahasia nih ya, dulu, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah tergila-gila dengan sosok superhero Superman dan saya sering kali ngebayangin kalau saya pun ingin bisa terbang kayak dia. Hihihi…

Kamu pun tentu memiliki seorang idoa yang ingin kamu tiru habis-habisan. Sosok idola itu bisa terwujud pahlawan superhero seperti yang saya idolakan itu, atau juga seorang penyanyi terkenal, atau juga seorang artis film atau sinetron yang sangat kamu kagumi. Banyak juga lho remaja yang mengidolakan tokoh nasional semacam Pak Amien Rais atau SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), atau mengidolakan atlet hebat seperti David Beckham atau Taufik Hidayat, Sah-sah saja sih punya idola karena sosok-sosok yang kita idolain itu biasanya menjadi sosok yang mengilhami diri kita buat menjadi seperti mereka. Betul, nggak? Sosok seorang idola juga terkadang memberikan kita banyak manfaat ketika kita meniru sisi-sisi hebat dari dirinya.

Teman saya, ada yang sangat mengidolakan binaragawan Ade Rai. Karena mengidolakan Ade Rai yang punya tubuh besar berotot itu, teman saya pun jadi ingin bias seperti Ade Rai, dan karena itu ia kemudian sering melatih otot-otot tubuhnya, baik pagi maupun sore dengan aneka senam dan latihan-latihan angkat berat. Meski sampai hari ini dia beum juga bisa memiliki tubuh sehebat Ade Rai, tapi teman saya ingin bahagia karena setidaknya dia udah bisa meniru idolanya. Lebi dari itu, teman saya ini juga udah mendapatkan manfaat dari pengidolanya itu, yaitu memiliki tubuh yang bukan hanya sehat karena setiap hari berolahraga, tapi juga memiliki bentuk fisik yang lumayan bagus. Banyak lho cewek-cewek yang kemudian ngelirik dia. Tapi Cuma ngelirik aja. Hihihi…

Tahu nggak, konon nih ya, Ade Rai sendiri dulunya nggak gede-gede amat lho tubuhnya. Biasa-biasa aja. Tapi karena dia ngefans berat sama aktor berbadan gede Arnold Schwazenegger, Ade Rai pun jadi kepengin bisa memiliki bentuk tubuh seperti itu. Malahan, saking ngefans-nya nich, Ade Rai sampai bela-belain memasang gambar-gambar poster Arnold Schwazenegger di berbagai tempat di rumahnya. Sambil terus menikmati poster-poster idolanya, Ade Rai pun mulai melatih tubuhnya hingga bisa sehebat sekarang, bahkan bisa menjadi salah seorang binaragawan terhebat di negeri ini. Nah, terbukti kan, punya idola tuh emang bisa menguntungkan.

Siapa sih idolamu?

Kamu emang punya hak sepenuhnya buat nentuin idola bagi dirimu sendiri yang akan memotivasi kamu, yang poster-posternya kamu tempelin di dinding-dinding kamarmu untuk kamu pandangi setiap waktu, dan kamu pun ngerasa tenteram bila telah memandan poster-poster itu karena kamu ngerasa sosok idlamu itu ada di dekatmu. Bahkan, kamu pun sering kali berusah untuk bisa meniru habis-habisan segala macam hal yang berkaitan dengan idolamu itu. Kalau pun akan berusaha untuk memakai kalung rantai. Kalau sang idola suka pakai kaos oblong, kamu pun akan berusaha menirunya dengan sering memakai kaos oblong. Kalau idola kamu punya banyak pacar , kam pun pingin menirunya. Ups, jangan ya!

Sekali lagi, meniru sosok idola adalah sah-sah saja karena sebagai mana yang udah saya bilangin di atas, ada kalanya sosok idola bisa memberikan banyak motivasi buatmu untuk tumbuh dan berusaha buat menjadi sosok yang kamu idolakan itu. Tapi, pernah gak sih kamu ngebayangin bahwa kamu bukanlah idolamu?

Sori ya, mungkin pertanyaan (barang kali lebih tepat kalau dibilang pernyataan) itu agak pahit. Tapi ini perlu ditegaskan, dan kamu perlu nyadari itu karena bagaimana pun juga, sosok yang kamu idolain itu adalah orang lain dan bukan dirimu sendiri. Sehebat apa pun idolamu, itu adalah bukan kamu. Kalau kamu hanya menujukan pandanganmu kepada sang idola saja, jangan-jangan kamu malah jadi lupa sama dirimu sendiri. Wah, berabe banget kan? Lucu gak sih kalau kita ingat terus sama orang yang kita idolain, tapi justru jadi lupa sama diri sendiri?

Sosok idola mungkin datang dan pergi silih berganti seiring dengan pertumbuhan usia dan perkembangan jiwamu. Tapi dirimu sendiri…nggak! Kamu tetap memilikinya sampai kapan pun. Seperti dulu halnya dengan saya yang ngidolain Superman, hari ini saya dah berganti idola, dan sosok Superman nggak terlalu mengagumkan lagi di mata saya. Kira-kira konyol nggak kalau udah segede ini masih aja berpikiran bisa terbang dengan sayap hanya dengan membuka kancing baju kayak Superman itu? Teman-teman saya pasti bakalan ngetawain saya habis-habisan!

Pernah juga nggak ngebayangin gini. Sebesar apa pun rasa cintamu sama idolamu itu, toh para bintang idola itu adalah sosok-sosok yang jauh, dalam arti mereka memiliki dunia mereka sendiri yang jelas berbeda dengan dunia kamu di sini. Kalau kamu ngidolain Michael Jackson, umpamanya, berapa kilometer tuh jauhnya dari rumahmu yang ada di Semarang atau di Yogya? Gawatnya lagi kalau seumur hidupmu, kamu nggak punya kesempatan untuk bisa ketemu langsung dengan si King of Pop itu meski sedari kecil kamu udah ngidolain ia habis-habisan.

Nah, satu-satunya orang yang tetap bakal bersamamu hanyalah dirimu sendiri. Karena itu, nggak ada salahnya lho kalau kamu ngidolain diri sendiri.

Ngidolain diri sendiri? Nggak salah nih?

Jangan kaget dulu. Maksudnya gini nih. Kalau kamu ngidolain diri sendiri, kamu akan memperoleh rasa cinta terhadap diri sendiri. Betapa pun juga, kamu memiliki begitu banyak kelebihan (disamping kekurangan tentunya) yang juga layak dibanggakan. Kamu memiliki potensi, bgat, dan talenta yang besar yang bisa kamu bangun untuk menjadi sosok yang bisa kamu idolakan. Dan…salah satu cara untuk bisa menggali semua bakat serta potensimu yang masih tersembunyi itu, kamu bisa menggunakan sosok idola untuk memotivasi kamu.

Lho, kok jadi tambah ruwet sih? Katanya tadi diminta buat ngidolain diri sendiri? Sekarang perlu sosok idola? Gimana dong?

Maksudnya gini nih. Kita pelu memiliki seorang idola untuk bisa dijadiin contoh atau teladan, sekaligus sebagai sosok yang bisa memotivasi diri kita untuk ngembangin bakat serta potensi diri kita sendiri. Tapi sebagaimana Ade Rai bukan Arnold Schwazenegger, kamu juga bukan sosok idolamu. Ade Rai menajdi hebat bukan karena menjadi Arnold Schwazenegger, tapi menjadi Ade Rai sendiri . Kamu juga bisa menjadi hebat tanpa menjadi sosok idolamu, tapi menjadi dirimu sendiri! Dan kalau kamu bisa mnejadi sosok yang benar-benar hebat sepeti yang kamu idolain, kamu tentu punya hak untuk ngidolain dirmu sendiri, kan?

Inilah nasihat pertama yang harus kamu camkan terlebih dulu sebelum menjadi dirimu sendiri….!

Di Kutip Dari: Novel Jadilah Dirimu Sendiri ; Karya: Hoeda Manis

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: