MIRIP ITU ENAK JUGA

“Army… bangun Army!” Terdengar mengalun-alun suara teriakan mama. Semakin mama berteriak, semakin telingaku menikmati alunan musik klasik ini. Faktanya, suara mama geram dan nadanya marah sekali. Sudah menjadi makanan sehari – hari hal semacam ini.

“Firsta Army Saputri! Bangun, inget les matematika! Nilai 3.4 bisa apa kamu?” Sindir mama. Sekarang suaranya terdengar memang terdengar geram sungguhan. Lekas kubuka mataku lebar – lebar, kutatap wajah mama yang menyeramkan.

“Astaga, pukul empat sore! Sore banget. Les..telat..mate..jelek!” kataku lantang tapi tersendat – sendat ketakutan, mengingat pentingnya les ini. Padahal, les yang kuanggap penting ini dimulai pukul empat sore.

“Aduh, dasar aku ini.” Kataku perlahan seraya menepuk dahiku. Hal ini kerap aku lakukan dimanapun dan kapanpun. Bisa dibilang ini merupakan gerak refleksku ketika menghadapi sesuatu. Aku menuju kamar mandi untuk ganti pakaian dan menyisir rambutku yang kusut dan tak terurus. Tanpa berpikir panjang, kuturuni tangga rumah yang amat licin itu sambil bibirku berkata, “Ma, Army berangkat.” Mama tak menghiraukanku. Maklum, toh aku juga tidak begitu menghiraukannya.

Dengan cekatan kuambil sebuah motor di garasi. Entah itu motor siapa aku tak peduli. Kecepatanku tidak teratur. Aku benar – benar panik. Sebenarnya aku sedikit bingung, hari ini ada yang aneh. Matahari begitu terik, tapi kok suasananya buran kayak foto penjajahan gini ya?

“Maaf Bu, saya terlambat.” Kataku pada tentor.

“Ya silahkan Army.” Balasnya dengan lembut.

Baru beberapa menit berlangsung, aku dikejutkan dengan suara musik rock. Ya ampun, itu bunyi dering handponeku. Aku segera minta ijin untunk mengangkatnya.

“Hallo.” Sapaku.

“Benar dengan Firsta Army Saputri?” Tanya si penelpon itu.

“Ya, benar. Maaf ini siapa ya?” Aku sedikit penasaran karena nomornya tidak muncul di contactku.

“Kami dari acara Mirip Itu Enak Juga episode mirip Robert Pattinson.” Aku berpikir sejenak. Benar – benar sulit dipercaya, aku ditelepon acara itu. Sebelum ada jadwal les ini aku sealu tidak melewatkan lihat acara itu. Selalu aku berdoa agar artis favoritku dimuat. Memang konyol sih.

Penelpon itu mengagetkanku lagi, “Kami meminta Anda untuk datang ke studio kami karena Anda telah memenangkan undian Ketemu Artis episode ini.”

Dengan lantang dan cekatan aku menjawab, “Ya. Pasti, dengan senang hati.” Tapi aku agak tidak yakin, kenapa bisa aku memenangkan undian ini, padahal aku tidak pernah mengirim macam sms, email menelepon atau sejenisnya. Ah, tapi tak apalah, hari keberuntunganku, mungkin. Setelah crew itu menjelaskan alamatnya, aku pergi ke sana. Les yang kata mamaku penting ini kutinggalkan.

Sampai di studio, aku melihat Deki, seorang cowok tampan. Gila, mirip banget dengan Robert Pattinson. Tampaknya dia juga baru duduk di bangku SMA. Amat terbaca jelas dari raur wajahnya. Tatapannya tajam, garis matanya tegas, dan bibirnya begitu mempesona. Hanya saja rambutnya hitam, bukan pirang.

Belum puas aku memandanginya, tiba – tiba, “Plok!” Ada sesorang yang menepuk bahuku. Pasti Deki lah seseorang itu. Spontan aku meoleh kekanan. Lho kok mamaku ada di sini?

“Army, sekolah! Kamu tu nggak bosen telat?” Sindir mama lagi.

“Ya ampun, Cuma mimpi. Sekolah..telat”kataku tersendat – sendat persis seperti dalam mimpi semalam. Pantesan cuacanya buram kayak film penjajahan walaupun cuacanya terik. Ternyata cuma mimpi.

Aku segera mandi layaknya seekor bebek untuk mempersingkat waktu. Kupercepat gerak langkahku seraya memikirkan mimpi semalam. Setelah semuanya siap, sesegera mungkin aku berangkat sekolah.

“Ma, berangkat.” Sapaku pada mama dari kejauhan.

“Syukurlah, belum terlambat.” Kataku sambil menghela nafas panjang. aku berlari menuju ruangan bertuliskan XI-4. Hingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang.

“Aduh.” Keluh seorang itu. Kami jatuh bersamaan. Tapi cowok itu segera bangkit dan mengulurkan tangannya untukku.

“Maaf.” Pintanya seraya menarikku untuk berdiri.

Aku menatapnya dari bawah perlahan menuju wajahnya. Astaga, tubuhnya tinggi, tegap, Tatapannya tajam, garis matanya tegas, dan bibirnya begitu mempesona. Perfect. Sepertinya aku pernah melihat cowok ini sebelumnya. Ya ampun, ini kan cowok dalam mimpi yang sempat terpotong semalam. Cowok itu membalasnya.

“Kamu Army kan?” Dia membuka percakapan.

“Lho, kamu siapa kok kenal aku? Kamu anak baru kan? Setauku tidak ada murid SMA ini macam kamu.” Aku malah bertanya dengan rasa penasaran.

“Kamu belum jawab pertanyaanku, Army.” Kata dia.

“Aku..” Belum sempat melanjutkan kata – kataku bel tanda masuk sudah memotong perkataanku dengan suaranya yang lantang.

“Nanti saja aku jelaskan.” Kataku sambil berlari menuju kelas yang teramat kucintai. Kalu saja guru jam pertama tidak killer aku pasti tidak akan berlari seperti ini. Kutinggalkan dia.

Karya : A.C.Novita..

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: